BUDIDAYA PERIKANAN

Juni 23, 2008

BUDI DAYA BIBIT KERAPU DI PANTAI TIMUR ACEH

 

Pendahuluan

Budi daya Bibit Kerapu Macan dalam Tambak di Pantai Timur Aceh sekarang sedang marak di lakukan, hal ini merupakan alternative usaha dari konversi lahan tambak udang. Budidaya dilakukan dengan cara pendederan benih yang berukuran 1 inci , dimana bibit ukuran satu inci ini didatangkan dari Bali, di pelihara di dalam tambak sampai ukuran 3 inci dan kemudian dikirim ke Medan kepada para exportir, selanjutnya exportir melakukan pengiriman ke luar negeri dengan Negara tujuan nya antara lain Malaysia, Singapura, dan Vietnam. Usaha Budi daya kerapu ini sebenarnya cukup menguntungkan akan tetapi banyak kendala yang ditemui dilapangan. Dalam hal ini penulis mengajak para pembaca untuk dapat memberikan masukan dan informasi yang dapat membantu para petani tambak untuk dapat meningkatkan penghasilanmereka.

Tehknis dan Operasional

Selama ini tehknis yang dilakukan untuk pemeliharan bibit kerapu dilakukan di tambak dengan menggunakan kerambah tancap yang berukuran 2 meter x 5 meter, satu kerambah di isi 1000 ekor bibit kerapu ukuran 1 inci, dengan masa pemeliharan 30 – 40 hari, maximum satu orang petani mendapat jatah 4000 ekor dari pengumpul. Setiap 1 minggu dilakukan peyortiran untuk melihat perkembangan pertumbuhan dari bibit. Karena sifat kerapu adalah kanibal maka diperlukan seleksi ukuran, yang besar dan yang kecil di pisah. Pemberian Pakan dilakukan 2 kali per hari pagi dn sore. Pakan yang diberikan adalah daging ikan cincang, ikan – ikan kecil dan udang kecepai (tergantung kepada daerah pemeliharaannya). Panen dilakukan pada saat ukuran mencapai 3 inci.

Pembiayaan operasional biasanya ditanggung oleh petani, pengumpul dan pengusaha exportir. Dengan rincian Pembelian bibit dan transport dari Medan ke Aceh ditanggung bersama oleh Pengumpul dan Exportir. Sedangkan biaya Pakan dan Operasional Lapangan di bebankan kepada Petani. Pembagian hasil dilakukan antara Petani dan Pengumpul dengan rasio 50% : 50% setelah dipotong Biaya Bibit dan Operasional. Sedangkan Pengumpul menjual hasil ke Exportir dengan harga yang telah ditentukan sebelumnya. Dari sini pengumpul biasanya mendapat keuntungan lagi.

Faktor Resiko Kegagalan

Faktor resiko terjadi pada semua elemen yang terlibat dalam budidaya, dimana biasanya terjadi kegagalan pada pemeliharaan, dimana bibit terserang penyakit dan faktor alam, biasanya terjadi banjir dan curah hujan yang tinggi. Kalau terjadi hal seperti ini kerugian dilami semua pihak yang terlibat baik petani, pengumpul dan exportir.

Permasalahan

Permasalahan di budidaya bibit kerapu hampir sama dengan bisnis – bisnis berbasis UKM apapun yaitu Modal Kerja. Tapi ada permasalah lain yang sangat signifikan di dalam bisnis ini yaitu kurangnya tehnologi dari petani dalam budidaya, dimana budidaya sepertinya dilakukan secara sangat tradisional sehingga produk yang di hasilkan bermutu rendah serta Survival Rate nya sangat rendah, dengan begitu hal yang terjadi adalah keuntungan yang tidak maximal dari petani. Selain itu tidak adanya program- program dari pemerintah yang dapat mendukung budidaya. Keterbatasan Modal Pengumpul dan Exportir sendiri juga bisa menjadi kendala. Satu hal lagi masih tergantungnya pembelian bibit dari Bali dengan Cost yang cukup tinggi dan Perjalanan pengiriman yang ckup jauh sehingga berpengaruh terhadap daya tahan Bibit.

Kesimpulan

Kesimpulan hasil pengamatan kami dari Lembaga Mitra Tani Organik adalah sbb :

  • Budidaya Bibit Kerapu Tambak kuntungannya cukup menjanjikan.
  • Perlunya Pendidikan kepada petani tentang Budidaya yang benar.
  • Bantuan Modal Kerja.
  • Pengadaan hatchery pembibitan di lokasi (ACEH)
  • Pusat informasi bisnis kerapu.

 

 

Solusi

Februari 11, 2008
Solusi yang tepat untuk mengatasi pencemaran dan penularan virus tmabak adalah dengan membersihkan tambak secara tepat, seoerti membunag lumpur ke tempat lain selain pematang dan pesisir pantai, tidak menggunakan bahan – bahan kimia yang berbahaya, sebisa mungkin memakai bahan – bahan organik yang aman dan ramah lingkungan, mengusahakan rentang waktu yang cukup antara satu priode budidaya dengan priode berikutnya, kalau bisa diusahakan memelihara ikan setelah panen udang.
Seperti pemaparan bapak Prof Syamsul Arifin ada pendekatan ekologis hal ini bisa diatasi, yakni dengan budidaya rumput laut, ini dapat merupakan pemicu dalam meningkatkan kemampuan budidaya.
Rumput Laut merupakan pemicu yang akan menyebabkan budidaya mengubah atau membentuk struktur komunitas baru yang akan menentukan arah dan perubahan kondisi fisik, kimia dan biologi tanah. Sehingga akan akan mengembalikan fungsi budidaya peraran tambak, dan juga alternatif dari uasaha petani tambak yang cukup potensial.

Problem Tambak Udang dan Solusinya

Februari 10, 2008
Budidaya udang tambak sempat mengalami kejayaan pada era tahun 1990-an, tetapi kemudian surut,dikarenakan timbul strain – strain baru dari virus udang yang sampai sekarang belum ada cara untuk membasminya. Hal ini sudah lama di alami oleh para petani tambak baik yang intensif atau yang tradisional.
Mengapa ini terjadi ?. Setelah diamati dan diteliti terjadinya strain virus baru tersebut akibat dari limbah pakan udang windu itu sendiri yang tidak dapat di hancurkan dan didekomposisi oleh tanah, dikarenakan pakan udang dioleh dengan penambahan bahan kimia, serta obat – obatan yang diberikan pada udang tersebut yang 80% adalah bahan kimia. Sehingga terjadi penumpukan dan akumulasi dari bahan – bahan tersebut dan menjadi media bagi pertumbuhan virus.
Seperti yang di kemukakan oleh Bapak Prof Syamsul Arifin sebagian besar limbah tambak udang terutama yang intensif masuk dan mencemari perairan pantai. Selama masa pemeliharaan udang windu,setiap harinya air tambak bagian bawah dibuang ke pesisir laut tanpa melalui proses dekomposisi. Padahal air itu mengandung sisa pakan dan senyawa beracun. Dan juga setelah panen air beserta lumpur cair juga dibuang ke perairan. Sedangkan lumour dari tambak diangkat ke pematang, tetapi kemudian kembali lagi ketambak bila datang hujan.
Bapak Profesor Syamsul Arifin adalah Kepala BAPEDALDA SUMUT. Beliau juga menerangkan bahwa kenyataannya itu menunjukkan bahwa budidaya udang intensif di tambak merupakan sumber pencemar organik potensial terhadap perairan laut dan pesisir pantai.
Akibat pesisir pantai tercemar hal ini akan menjadi media penular penyakit udang yang sangat potensial, karena air yang keluar dari satu tambak membawa penyakit dan air ini disedot kembali oleh tambak yang lain sehingga terjadi penularan. satu kali penyakit ini terjangkit tidak akan hilang dari peredaran sampai muncul priode pembudidayaan berikutnya.
Hal ini perlu jadi perhatian kita semua terutama para pemerhati lingkungan untuk lebih menekankan pembelajaran terhadap masyarakat petani tambak untuk lebih berhati-hati dan mendesak pemerintah agar mencari solusi yang tepat untuk kelangsungan budidaya udang windu.

ANALISA USAHA

Januari 26, 2008

ANALISA USAHA PERTANIAN PADI ORGANIK

 

Apakah Pertanian Organik Layak secara Ekonomi?.

Bicara keberlanjutan dalam pertanian organik, tidak dapat dipisahkan dengan dimensi ekonomi, selain dimensi lingkungan dan dimensi sosial. Pertanian organik tidak sebatas hanya meniadakan penggunaan asupan eksternal sintetis, tetapi juga pemanfaatan sumber-sumber alam secara berkelanjutan, produksi makanan sehat dan menghemat energi. Aspek ekonomi dapat berkelanjutan bila produksi pertaniannya mampu mencukupi kebutuhan dan memberikan pendapatan yang cukup untuk melaksanaan keberlanjutan penghidupan. Tetapi, kerapkali motivasi ekonomi menjadi kemudi yang menyetir arah pengembangan pertanian organik. Di satu sisi dapat mendorong pengembangan pertanian organik di Indonesia, tetapi di sisi lainnya dapat menjadi bumerang yang dapat meruntuhkan pondasi gerakan pertanian organik yang sedang dibangun.

Ekonomi Lahan

Budidaya pertanian organik mengintikan pada keselarasan alam, melalui keragaman hayati dan pengoptimalan penggunaan asupan alami yang berada di sekitar melalui proses daur ulang bahan-bahan alami. Dalam proses budidayanya, dari persiapan lahan hingga pemanenan tidak dapat dilepaskan dengan interaksi kedua hal tersebut.

Pertanian organik yang berasal dari lahan konvensional (lahan yang intensif penggunaan asupan kimia sintetis) perlu masa peralihan. Peralihan dari pertanian yang dikelola secara konvensional ke pertanian organik seharusnya tidak hanya memperbaiki ekosistem lahan, namun juga menjamin kelangsungan hidup (secara ekonomi) lahan tersebut. Karena itu, penyesuaian, kesempatan dan resiko yang dituntut untuk peralihan itu saling berkaitan dan harus diperhatikan.

Peralihan ke pertanian organis memerlukan pola pikir yang baru pula. Seluruh anggota keluarga yang terlibat dalam pengelolaan lahan harus siap dalam melakukan perubahan-perubahan dalam banyak aspek. Yang pertama dan terpenting adalah cara pandang petani itu sendiri terhadap pertanian organik.

Potensi ekonomi lahan pertanian dipengaruhi oleh sejumlah faktor yang berperan dalam perubahan biaya dan pendapatan ekonomi lahan. Setiap lahan memiliki potensi ekonomi bervariasi (kondisi produksi dan pemasaran), karena lahan pertanian memiliki karakteristik berbeda yang disesuaikan dengan kondisi lahan tersebut. Maka faktor-faktornya bervariasi dari satu lahan ke lahan yang lain dan dari satu negara ke negara yang lain. Secara umum, semakin banyak perubahan dan adopsi yang diperlukan dalam lahan pertanian, semakin tinggi pula resiko ekonomi yang ditanggung untuk perubahan-perubahan tersebut.

Kemampuan ekonomi suatu lahan dapat diukur dari keuntungan yang didapat oleh petani dalam bentuk pendapatannya. Keuntungan ini bergantung pada kondisi-kondisi produksi dan pemasaran. Keuntungan merupakan selisih antara biaya (costs) dan hasil (returns). Modal tetap atau fixed costs (yang tidak secara langsung bergantung pada ukuran produksi) merupakan biaya yang dikeluarkan untuk membeli atau menyewa tanah, bangunan atau mesin-mesin; atau bisa juga biaya yang disediakan untuk menggaji pekerja-pekerja tetap. Upah bagi buruh tani (termasuk bila menggunakan tenaga kerja keluarga) yang bekerja untuk pekerjaan-pekerjaan khusus (misalnya pada waktu panen) tergantung pada ukuran produksi. Ini disebut sebagai modal tidak tetap (variable costs), termasuk biaya yang dikeluarkan untuk membeli asupan (misalnya benih, manur, pestisida). Sebuah lahan bisa dikatakan layak secara ekonomi jika hasil yang didapat melampaui total modal tidak tetap dan penurunan nilai modal tetap. Hasil utamanya berupa uang yang diterima dari penjualan produk yang dihasilkan. Untuk memperhitungkan keuntungan lahan keluarga dan kegiatan-kegiatan lahan, penghematan pengeluaran untuk makan dan pendapatan yang diperoleh dari luar lahan (misalnya sebagai buruh upahan atau dari kegiatan usaha yang lain) harus turut diperhitungkan.

Pada masa peralihan ini perlu dilihat, apakah biaya produksi dan hasil panenan akan meningkat atau menurun?. Faktor-faktor yang mempengaruhi biaya-biaya selama dan setelah peralihan tidak selalu sama dan bergantung pada jenis pertaniannya, apakah bertani tradisional atau intensif?, dan jenis produksinya -(tanaman apa yang utama?. Apakah juga memelihara hewan ternak?)- serta kondisi lingkungan dan sosial-ekonomi.

Karena itu, penyamarataan biaya produksi tidak mungkin dilakukan. Dalam kasus-kasus yang sering dijumpai di lahan, biaya asupan awal mengalami kenaikan karena petani harus membeli manur organik untuk membangun materi organik tanah. Selain itu, diperhitungkan pula biaya untuk menggaji pekerja -mengangkut manur, membersihkan semak, dll- yang menjadi rangkaian pekerjaan yang disesuaikan dengan kondisi lahan dan sistem pertanian organiknya. Ini dapat menaikkan biaya produksi secara keseluruhan. Sementara hasil produksinya dapat menurun sekitar 10-50 persen dari hasil pertanian konvensional, tergantung dari tanaman dan sistem pertaniannya.

Penurunan hasil panen bisa terjadi dalam kondisi-kondisi tertentu, terutama jika kesuburan tanah amat rendah akibat kekurangan materi organik tanah. Hal ini dapat mengecewakan petani yang berharap mengalami peningkatan hasil dari sistem organik. Jika demikian situasinya, perlu dinilai secara individu di setiap daerah dan di setiap lahan. Untuk menghindari kekecewaan yang berlebihan, petani yang tertarik untuk beralih ke pertanian organis harus diingatkan untuk bersiap-siap menghadapi penurunan hasil pada tahun-tahun awal dan tidak perlu khawatir karena setelah tiga hingga lima tahun hasil panen akan naik dan memuaskan. Tampaknya perbaikan hasil panen dapat menjadi lebih tinggi pada daerah yang memiliki iklim lembab dengan tanah yang mengandung banyak materi organisnya.

Berdasarkan studi literatur dan bukti empirik di lapangan, setelah masa peralihan dilalui, hasil panen pertanian organis mengalami peningkatan seperti jumlah semula bahkan dapat melebihi. Jadi, pada waktu proses peralihan dari pertanian konvensional ke organis selesai, hasil panen yang didapat sangat positif karena tidak mengalami penurunan.

Selain itu, setelah masa peralihan usai, tanah lahan telah ‘pulih’ dan keanekaragaman hayati di lahan telah mengalami keseimbangan, memberikan kontribusi bagi penurunan biaya produksi seperti biaya sebelum perubahan atau mungkin lebih rendah, mengingat saat itu lahan tidak membutuhkan asupan kimia pertanian (agro kimia) yang sangat mahal harganya karena cukup memanfaatkan sumber-sumber yang ada di lahan itu sendiri.

Hasil/keuntungan tidak hanya bergantung pada jumlah panen tetapi juga harga yang diberikan oleh pasar. Meskipun demikian, pada umumnya petani berharap mendapat harga premium untuk produk-produk organis mereka setelah lahan mereka organik. Tetapi, bilapun harga premium tidak terpenuhi, sebenarnya petani organik untung karena biaya produksi organik lebih rendah dibandingkan non organik. Permasalahannya adalah kapan jerih payah petani dihargai lebih dari sekedar angka-angka dalam biaya produksi?

Berikut ini disajikan perbandingan analisis usaha budidaya organik dan konvensional pada padi. Analisis dibuat untuk luasan lahan satu hektar, nilai atau harga yang digunakan berlaku untuk daerah Lubuk Cemara, Kab Serdang Bedagai , Sumatra Utara pada Musim tanam bulan Mei – Agustus Tabel 1

1.Perbandingan Operasional Budidaya Organik dan Konvensional per hektar

No

     

Organik

   

Konvensional

 

1

BENIH

10 kg

Rp 10.000

Rp 100.000

 

40 Kg

Rp 6.500

Rp 260.000

2

PUPUK DASAR

             
 

Kompos

Bahan Fermentasi

KCL

SP36

Pupuk Organik

2000 Kg

2 Kg

 

 

10 lt

Rp 750

Rp 40.000

 

 

Rp 40.000

Rp 1.500.000

Rp 80.000

 

 

Rp 400.000

 


150 Kg

100 Kg

100 Kg


Rp 1.400

Rp 2.800

Rp 1.850


Rp 210.000

Rp 280.000

Rp 185.000

3

PUPUK SUSULAN

             
 

Kompos

Urea

KCL

SP36

Pupuk Organik



 

 

7 kg



 

 

Rp 70.000



 

 

Rp 490.000

 


100 Kg

50 Kg

50 Kg


Rp 1.400

Rp 2.800

Rp 1.850


Rp 140.000

Rp 97.500

Rp 92.500

4

PENYEMPROTAN

             
 

Pupuk Organik

5 lt

Rp 40.000

Rp 200.000

       

5

PESTISIDA

             
 

Pestisida Organik

Pestisida Kimia

2

Rp 40.000

Rp 80.000-

 


10 lt


Rp 50.000


Rp 500.000

6

TENAGA KERJA

             
 

Pengolahan lahan

Penanaman

Penyulaman

Penyiangan

Pemupukan

Penyemprotan

Pemanenan

   

Rp 625.000

Rp 450.000

Rp 200.000

Rp 150.000

Rp 100.000

Rp 50.000

Rp 1.875.000

     

Rp 625.000

Rp 450.000

Rp 200.000

Rp 150.000

Rp 100.000

Rp 50.000

Rp 1.125.000

                 

7

Biaya Non Tehnis

             
 

Bunga Pinjaman Tengkulak

Potongan hasil Panen


 



 


 

 

15%

 

4%

Rp 5.376.704

 

Rp 11.250.000

Rp 806.506

 

Rp 450.000

 

TOTAL MODAL

   

Rp 6.100.000

     

Rp 5.721.506

 

HASIL

7.500 Kg

Rp 2.500

Rp 18.750.000

 

4.500 Kg

Rp 2.500

Rp 11.250.000

 

KEUNTUNGAN

   

Rp 12.650.000

     

Rp 5.528.494

Terlihat bahwa, biaya operasional budidaya padi dari penyediaan benih hingga penanaman padi organik Pola LMTO dan konvensional tidak terlalu berbeda. Perbedaan tampak pada penggunaan asupan-asupan eksternal bagi perawatan tanaman.

Pada budidaya organik Pola LMTO penggunaan pestisida organik tidak mutlak dibutuhkan, bila di butuhkan cukup dengan pemakaian 2 lt/H dengan harga Rp 40.000/lt

Dengan asumsi tidak terjadi puso dan lahan organik telah terbentuk, setiap hektar sawah akan mampu menghasilkan gabah 7.5 ton, sedangkan sawah konvensional menghasilkan gabah 4.5 ton/H .. Bila harga gabah organik Pola LMTO dan konvensional dihargai sama yaitu Rp. 2.500,- per kilo gram, maka petani organik akan mendapatkan pendapatan sebesar Rp. 18.750.000,-. Dengan demikian, keuntungan petani organik sebesar Rp. 13.140.000,- dan petani konvensional hasil gabah sebesar Rp. 11.250.000,-, keuntungan Rp 5.528.494. Artinya, dilihat dari sudut asupan pertanian saja dengan cara membandingkan hasil pendapatan, budidaya pertanian organik dengan pola LMTO lebih menguntungkan 50 persen dibandingkan dengan pertanian konvensional.

Dari segi aspek bisnis Kilang Padi, budidaya pertanian organic Pola LMTO lebih menguntungkan karena rendemen gabah lebih tinggi, budidaya konvensional rendenem 50%. Pola LMTO bisa mencapai 60 – 70 %. Jadi ada selisih 10-20%.

Hal lain dari budidaya konvensional yaitu pengaruh dari para tengkulak yang telah lama berperan dalam keterpurukan petani Indonesia, karena memanfaatkan mereka sebagai lahan bisnis dengan cara yang tidak adil.

Dalam data di atas, tidak dimasukannya biaya sewa lahan karena biaya tersebut dapat dianggap sama antara lahan organik Pola LMTO dan non organik.

Ditinjau dari kelayakan usaha, secara finansial dapat dilihat dari BEP (break event point), radio B/C (benefit cost), dan ROI (return of investment) dengan asumsi menggunakan harga beras organis dan non organik saat ini.

Gabah Organik

a. BEP

Suatu usaha budidaya dikatakan berada pada titik impas atau balik modal berarti bahwa besarnya hasil sama dengan modal yang dikeluarkan. Perhitungan BEP ada dua, yaitu BEP volume produksi dan BEP harga produksi.

BEP Volume produksi = Biaya produksi = Rp. 5.610.000,- = Rp. 2.244/Kg

Harga produksi Rp. 2.500,-

Artinya, titik balik modal usaha budidaya organik Pola LMTO dapat tercapai pada tingkat volume produksi sebanyak 2.244 kilogram untuk sekali panen.

BEP harga produksi = Biaya operasional = Rp. 5.610.000,- = Rp.748,-/Kg

Jumlah produksi 7.500,- kg

Artinya, titik balik modal tercapai bila harga gabah organik Pola LMTO yang diperoleh dijual dengan harga Rp.748,- per kilogram.

Rasio B/C

Rasio B/C merupakan ukuran perbandingan antara hasil penjualan dengan biaya operasional. Dengan rasio B/C akan diperoleh ukuran kelayakan usaha. Bila nilai yang diperoleh lebih dari satu maka usaha dapat dikatakan layak untuk dilaksanakan. Namun bila kurang dari satu maka usaha tersebut dikatakan tidak layak.

Rasio B/C = Hasil Penjualan = Rp. 18.750.000,- = 3.34

Biaya Operasional Rp. Rp. 5.610.000,-

Artinya biaya yang dikeluarkan sebesar Rp. 18.750.000,- akan diperoleh hasil penjualan sebesar 3.34 kali lipat sehingga sangat layak untuk diusahakan.

ROI (return of investment)

Analisis ROI merupakan ukuran perbandingan antara keuntungan dengan biaya operasional. Analisis ini digunakan untuk mengetahui efisiensi penggunaan modal.

ROI = Keuntungan x 100% = Rp. 13.140.000 x 100% = 3.34%

Biaya Operasional Rp. 5.610.000,-

Artinya biaya yang dikeluarkan sebesar Rp. 100,- akan dihasilkan keuntungan sebesar Rp. 334,-, sehingga penggunaan modal untuk usaha ini sangat amat efisien.

 

Gabah Konvensional

a. BEP

BEP Volume produksi = Biaya produksi
=
Rp 5.721.506,- = Rp. 2.288,60 Kg

Harga produksi Rp. 2.500,-

Artinya, titik balik modal usaha budidaya konvensional dapat tercapai pada tingkat volume produksi sebanyak 2.288,60 kilogram untuk sekali panen.

BEP harga produksi= Biaya operasional = Rp. 5.721.506,- = Rp.1.271.44,-/Kg

Jumlah produksi 4.500,-kg

Artinya, titik balik modal tercapai bila harga gabah konvensional yang diperoleh dijual dengan harga Rp. 1.271.44,- per kilogram.

Rasio B/C

Rasio B/C = Hasil Penjualan = Rp. 11.250.000,- = 1.96

Biaya Operasional Rp. 5.721.506,-

Artinya biaya yang dikeluarkan sebesar Rp. 5.721.506,- akan diperoleh hasil penjualan sebesar 1.96 kali lipat sehingga layak untuk diusahakan.

ROI (return of investment)

ROI = Keuntungan x 100% = Rp. 5.528.494
x 100% = 96.6%

Biaya Operasional Rp 5.721.506

Artinya biaya yang dikeluarkan sebesar Rp. 100,- akan dihasilkan keuntungan sebesar Rp. 96.6,-, sehingga penggunaan modal untuk usaha ini masih efisien.

 

Dari hasil analisis finansial terlihat bahwa budidaya organik Pola LMTO lebih layak dibandingkan konvensional. ini dapat dilihat dari titik impas volume dan harga produksi gabah organik Pola LMTO jauh lebih kecil dibanding gabah konvensional. Pembiayaan budidaya organik Pola LMTO juga lebih rendah dari budidaya konvensional walaupun produksi gabah tetap sama.

Berdasarkan rasio B/C, budidaya organik Pola LMTO masih lebih besar dibandingkan konvensional, yaitu 3.34 (Lebih tiga kali) dan 1.96 (hampir dua kali). Sementara untuk perhitungan ROI menunjukkan bahwa keuntungan yang diperoleh budidaya organik Pola LMTO sebesar hamper 2 kali lipat keuntungan budidaya padi konvensional. Dengan demikian, modal usaha akan lebih cepat kembali pada pembudidayaan padi organik Pola LMTO.

Aspek Sosial Dan Lingkungan, Efisiensi Dalam Pertanian Organik Pola LMTO

Pertanian organis merupakan strategi pertanian yang ramah lingkungan yang menyandarkan pada keragaman hayati di lahan pertanian. Memelihara alam di lahan dan sekitar lahan menciptakan tempat yang nyaman bagi mahluk hidup.

Karena budidayanya meniru dengan praktek-praktek yang terjadi di alam, pertanian organik berujung pada budidaya yang efisien. Lambat laun, karena keseimbangan ekosistem terjadi sebagai buah terjaganya keragaman hayati mengakibatkan biaya produksi kian menurun. Pertanian organik dimaksudkan menjadi semacam pertanian yang menggunakan asupan luar serendah mungkin.

Dengan memperbesar daur ulang bahan-bahan alami di lahan, menjadi cara yang efektif mengurangi biaya asupan. Misalnya sampah dapur bersama bahan-bahan organik dari lahan dapat dijadikan kompos. Bahan-bahan dari pangkasan pohon dan pagar tanaman dapat dimanfaatkan sebagai kayu bakar, sementara dedaunan dan ranting-ranting dapat dipakai sebagai mulsa atau kompos. Yang terpenting, efisien dari daur ulang nutrisi berupa pengelolaan pupuk hijau. Petani sedapat mungkin mendaur ulang nutrisi yang berasal dari lahan sendiri dan tidak perlu membeli dari luar dengan mencari sumber-sumber pupuk yang tersedia di daerah sekitar ladang, misalnya sampah dari pengolahan hasil pertanian, menanam pangan sendiri misalnya sayur-mayur, makanan pokok, buah-buahan dan tepung-tepungan.

Cara lain untuk mengurangi biaya produksi dengan menerapkan metode tumpang sari/rotasi tanaman sehingga dapat memelihara keragaman species yang dapat mengendalikan organisme pengganggu tanaman (OPT), menggunakan agen hayati lokal untuk membuat pestisida botani sendiri, memproduksi benih dan semaian sendiri, memelihara ternak (untuk mendapatkan manur, susu, telur, daging, dll), membuat pakan ternak di kebun sendiri, saling pinjam-meminjam peralatan dan mesin-mesin dengan tetangga sesama petani dan membeli peralatan yang dibuat secara lokal daripada membeli yang impor, menggunakan bahan-bahan konstruksi yang tersedia di daerah setempat (misalnya bengkel kompos, kandang ternak, alat-alat dll), bergabung dengan petani lain membentuk usaha simpan pinjam agar terhindar dari jeratan tengkulak dengan bunga yang mencekik leher.

Selain untuk mengendalikan OPT, metode tumpang sari dari sisi ekonomi dapat menjadi cara untuk menjaga kesinambungan produksi/pemasaran dan menghasilkan keragaman produk pertanian. Artinya, dengan menanam beragam tanaman dalam suatu luasan lahan tertentu, dimana tanaman memiliki usia tanam tertentu dan dalam jumlah tak banyak, akan menghasilkan produk pertanian yang beragam dan diperoleh sepanjang tahun –berdasarkan usia tanam- serta dapat mengontrol harga produk agar tidak jatuh karena petani tetap menjaga ketersediaan produk terus menerus tetapi tidak dalam jumlah yang besar.

Keseimbangan alam dan ekosistemnya secara keseluruhan merupakan aset berharga, yang apabila dikuantifikasikan -(tidak bermaksud mereduksi makna dan peran alam)- berkontribusi untuk mengurangi biaya yang dikeluarkan untuk produksi pertanian organik.

Untuk tenaga kerja, fakta yang terjadi di lapangan, pertanian organik menggunakan tenaga kerja lebih intensif dibanding pertanian konvensional terutama pada masa peralihan. Hal ini dikarenakan pengoptimalan penggunaan bahan-bahan alami di sekitar yang dikelola berdasarkan interaksi biologi dan ekologi, dimana prosesnya dilakukan sendiri dalam komunitas pertanian tersebut. Artinya bahan baku untuk asupan pertanian diperoleh dalam komunitas dengan cara membeli atau barter antar anggota komunitas. Ini dapat menekan biaya produksi yang dikeluarkan, tetapi memerlukan tenaga kerja yang intensif. Kalaupun biaya dikeluarkan untuk memperoleh asupan-asupan pertanian dan menggunakan tenaga kerja setempat, perputaran uang hanya terjadi pada komunitas tersebut dan secara tidak langsung menguatkan tatanan ekonomi dan sosial masyarakat komunitas.

Meskipun di negara-negara tropis tenaga kerja lebih murah dibandingkan harga asupan kimia, para petani dalam jangka waktu panjang tetap mengeluarkan biaya untuk tenaga kerja, baik yang dilakukan sendiri ataupun pekerja upahan. Biaya tenaga kerja dapat dikurangi, dengan menerapkan metode pencegahan dalam budidayanya. Seperti metode tumpang sari dan rotasi tanaman dapat membantu dalam pengendalian hama dan penyakit tanaman. Pengurangan pengolahan tanah dengan menggunakan penggunaan jerami dari hasil panen, pemberian manur untuk menumbuhkan dan memperkaya kandungan materi organik tanah. Dengan memelihara alam, akhirnya alamlah yang akan memelihara budidaya kita dan memelihara kita.

Praktek pertanian organik yang dilakukan komunitas memberikan kontribusi bagi pengembangan pembangunan pedesaan. Pertanian organik dan pertanian terpadu mewakilkan kesempatan pada semua tingkatan, mendorong ekonomi pedesaan melalui pembangunan berkelanjutan. Malah kesempatan kerja baru di pertanian menjadi bukti dari pertumbuhan sektor organik.

 
 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Pendahuluan

Januari 26, 2008

PERAN LEMBAGA MITRA TANI ORGANIK DALAM PENINGKATAN PRODUKSI TANAMAN ORGANIK

 

I.    PENDAHULUAN

    Salah satu upaya peningkatan produksi pertanian yang dilaksanakan dewasa ini adalah melalui program intensifikasi yaitu upaya peningkatan produksi melalui tehnik peningkatan produksi persatuan luas. Adapun pola tersebut melibatkan kegiatan sapta usaha diantaranya pengolahan tanah yang baik, penggunaan benih bermutu, pemupukan yang berimbang, pengendalian hama dan penyakit, pemeliharaan dan penanganan pasca panen yang tepat dan benar.

    Permasalahan yang dihadapi dalam upaya peningkatan produksi diantaranya sering terbatasnya penyediaan faktor produksi seperti pupuk yang sulit didapat, pestisida yang relative mahal disamping ekosistim yang terus tergangggu. Pemahaman akan bahaya bahan kimia sintetis dalam waktu yang lama mulai disadari sehingga perlu alternative dalam bercocok tanam yang mampu menghasilkan produksi yang tinggi, bebas dari pencemaran kimia sintetis serta menjaga lingkungan yang lebih sehat.

    Trend pertanian organik di Indonesia, mulai diperkenalkan oleh beberapa petani yang sudah mapan dan memahami keunggulan sistim pertanian organik tersebut. Beberapa ekspatriat yang sudah lama hidup di Indonesia, memiliki lahan yang luas dan ikut membantu mengembangkan aliran pertanian organik tersebut ke penduduk di sekitarnya. Kemudian beberapa kalangan atas yang memiliki hoby bercocok tanam juga sekarang beramai-ramai mulai membenahi lahan luas yang dimiliki mereka dan mempekerjakan penduduk sekitarnya sekaligus alih teknologi. Disamping itu banyak lembaga non pemerintah (NGO) yang bertujuan mengembangkan sistim pertanian organik di Indonesia melalui pembinaan sumberdaya manusia ataupun bertujuan menggapai pasar organik didalam dan luar negri.

Lembaga Mitra Tani organik sesuai dengan visi dan misinya bekerjasama dengan masyarakat tani, pemerhati lingkungan dan kalangan pemerintah untuk mengembangkan berbagai strategi dalam upaya menghasilkan produk – produk organik serta upaya peningkatan pendapatan masyarakat.

II.    PENGERTIAN PERTANIAN ORGANIK

    Sebenarnya apa itu pertanian organik, dan mengapa produk organik tersebut bisa menjadi tidak terjangkau oleh masyarakat kita sendiri apalagi oleh petani. Dan mungkinkah sistim pertanian organik ini dapat menjadi salah satu pilihan dalam rangka ketahanan pangan dan sustainabilitas lahan pertanian di Indonesia.

Cikal bakal pertanian organik sudah sejak lama kita kenal, saat itu semuanya dilakukan secara tradisonal dan menggunakan bahan-bahan alamiah. Sejalan dengan perkembangan ilmu pertanian dan ledakan populasi manusia maka kebutuhan pangan juga meningkat. Saat itu revolusi hijau di Indonesia memberikan hasil yang signifikan terhadap pemenuhan kebutuhan pangan. Dimana penggunaan pupuk kimia sintetis, penanaman varietas unggul berproduksi tinggi (high yield variety), penggunaan pestisida, intensifikasi lahan dan lainnya mengalami peningkatan. Pencemaran pupuk kimia, pestisida dan lainnya akibat kelebihan pemakaian, berdampak terhadap penurunan kualitas lingkungan serta kesehatan manusia. Pemahaman akan bahaya bahan kimia sintetis dalam jangka waktu lama mulai disadari sehingga dicari alternatif bercocok tanam yang dapat menghasilkan produk yang bebas dari cemaran bahan kimia sintetis serta menjaga lingkungan yang lebih sehat. Sejak itulah mulai dilirik kembali cara pertanian alamiah (back to nature). Pertanian organik modern sangat berbeda dengan pertanian alamiah di jaman dulu. Dalam pertanian organik modern dibutuhkan teknologi bercocok tanam, penyediaan pupuk organik, pengendalian hama dan penyakit menggunakan agen hayati atau mikroba serta manajemen yang baik untuk kesuksesan pertanian organik tersebut.

Pertanian organik di definisikan sebagai “sistem produksi pertanian yang holistik dan terpadu, dengan cara mengoptimalkan kesehatan dan produktivitas agro-ekosistem secara alami, sehingga menghasilkan pangan dan serat yang cukup, berkualitas, dan berkelanjutan. Lebih lanjut IFOAM (International Federation of Organik Agriculture Movements) menjelaskan pertanian organik adalah sistem pertanian yang holistik yang mendukung dan mempercepat biodiversiti, siklus biologi dan aktivitas biologi tanah.

III.    PERMASALAHAN SEPUTAR PERTANIAN ORGANIK

a. Penyediaan pupuk organik

Permasalahan pertanian organik di Indonesia sejalan dengan perkembangan pertanian organik itu sendiri. Pertanian organik mutlak memerlukan pupuk organik sebagai sumber hara utama. Dalam sistem pertanian organik, ketersediaan hara bagi tanaman harus berasal dari pupuk organik. Padahal dalam pupuk organik tersebut kandungan hara per satuan berat kering bahan jauh dibawah realis hara yang dihasilkan oleh pupuk anorganik, seperti Urea, TSP dan KCl.

b. Teknologi pendukung

Setelah masalah penyediaan pupuk organik, masalah utama yang lain adalah teknologi budidaya pertanian organik itu sendiri. Teknik bercocok tanam yang benar seperti pemilihan rotasi tanaman dengan mempertimbangkan efek allelopati dan pemutusan siklus hidup hama perlu diketahui. Pengetahuan akan tanaman yang dapat menyumbangkan hara tanaman seperti legum sebagai tanaman penyumbang Nitrogen dan unsur hara lainnya sangatlah membantu untuk kelestarian lahan pertanian organik. Selain itu teknologi pencegahan hama dan penyakit juga sangat diperlukan, terutama pada pembudidayaan pertanian organik di musim hujan.

c. Pemasaran

Pemasaran produk organik didalam negeri sampai saat ini hanyalah berdasarkan kepercayaan kedua belah pihak, konsumen dan produsen. Sedangkan untuk pemasaran keluar negeri, produk organik Indonesia masih sulit menembus pasar internasional meskipun sudah ada beberapa pengusaha yang pernah menembus pasar international tersebut. Kendala utama adalah sertifikasi produk oleh suatu badan sertifikasi yang sesuai standar suatu negara yang akan di tuju. Akibat keterbatasan sarana dan prasarana terutama terkait dengan standar mutu produk, sebagian besar produk pertanian organik tersebut berbalik memenuhi pasar dalam negeri yang masih memiliki pangsa pasar cukup luas. Yang banyak terjadi adalah masing-masing melabel produknya sebagai produk organik, namun kenyataannya banyak yang masih mencampur pupuk organik dengan pupuk kimia serta menggunakan sedikit pestisida. Petani yang benar-benar melaksanakan pertanian organik tentu saja akan merugi dalam hal
ini.

Lembaga Mitra Tani Organik di bentuk berdasarkan pengamatan atas beberapa aspek :

  • Lingkungan

    Selama beberapa dasawarsa ini telah terjadi pergeseran pola dan system tanam pada masyarakat petani kita, sehingga terjadi perubahan dan kerusakan lingkungan yang bersifat global, tidak hanya pada tanah tetapi juga pada air dan udara.

  • Kesehatan

    Akibat perubahan lingkungan , berdampak pula pada kesehatan manusia dimana daya tahan manusia terhadap penyakit semakin menurun, dan timbul jenis – jenis bakteri dan virus yang baru dan daya tahan bakteri dan virus baru tersebut relative meningkat terhadap obat.

  • Keadilan dan Perlindungan

    Kalau dibandingkan dengan zaman dahulu , zaman sekarang terjadi penurunan terhadap kwalitas maupun kwantitas terhadap hasil dari tanaman, sehingga menimbulkan dampak terhadap pendapatan dari para petani, dimana terjadi peningkatan modal tapi tidak disertai dengan hasil yang memadai. Munculnya strain baru hama dan penyakit dari tanaman.

  • Finansial

    Selama ini kita melihat keuntungan dari hasil panen petani tidak seluruhnya diterima oleh petani, hanya sekitar 20% – 30% hasil dari panen, yang lain menghilang begitu saja, hal ini diakibatkan oleh kurangnya modal para petani . Kurangnya bantuan berupa modal dan tehnologi dari pemerintah maupun kredit Bank..

Dari hasil pengamatan terhadap keempat hal diatas, kita dapat menyimpulkan apa penyebab perubahan semua itu, yaitu pengolahan lahan yang tidak sesuai dengan ketentuan, pemakaian pupuk dan penggunaan pestisida kimia yang tidak sesuai prosedur, kurang pengetahuan tentang kesehatan lingkungan.

Akibat terjadinya perubahan lingkungan yang extrim terjadi pula perubahan pada kehidupan sosial pada masyarakat, kami dari Lembaga Mitra Tani Organik (LMTO) mengajak element masyarakat yang mempunyai visi , misi dan inovasi atas kepedulian terhadap lingkungan bergabung dan bekerja bersama untuk mengembangkan sebuah rencana jangka panjang bagi perbaikan lingkungan dan masyarakat.

VISI DAN MISI    

Visi Lemba Mitra Tani Organik selalu mengedepankan lingkungan yang berkelanjutan dengan menyertakan regenerasi dari pemanfaatan ekosistem sebagai produk yang nantinya akan menggantikan produk produk kimia.

    Misi Lemba Mitra Tani Organik bekerjasama dengan Pemuka Masyarakat, LSM, Pemerhati Lingkungan dan kalangan Pemerintah untuk mengembangkan berbagai strategi.

PROGRAM

Program Jangka Pendek,

  • Membudayakan petani agar bercocok tanam secara organik dan ramah lingkungan dengan pemakaian pupuk dan pestisida organik.
  • Memberikan ilmu pengetahuan tentang pelestarian lingkungan dan bahaya kerusakan lingkungan.
  • Memberikan bantuan berupa bibit dan pupuk dengan pembayaran setelah panen.
  • Membentuk suatu jaringan dengan system pembinaan terhadap kelompok tani.

     

Program Jangka Panjang,

  • Meningkatkan pendapatan petani melalui peningkatan produksi dan atau mutu hasil panen.
  • Menciptakan metoda pertanian yang ramah lingkungan.
  • Menghasilkan produk pertanian organik, mempunyai nilai jual lebih baik serta memberi manfaat kepada kesehatan masyarakat banyak.
  • Mengurangi pengangguran dengan cara memperdayakan masyarakat sekitar untuk dapat mengelola pertanian secara berkesinambungan.
  • Mengajak masyarakat , LSM peduli lingkungan dan pemerintah bersama – sama membantu petani agar dapat terbebas dari masalah yang selama ini terjadi.
  • Membantu Pemerintah dalam hal swasembada pangan dan meningkat ketahanan pangan nasional.
  • Mengurangi ketergantungan terhadap penggunaan bahan kimia.

DUKUNGAN

Sejauh ini pertanian organik disambut oleh banyak kalangan masyarakat, meskipun dengan pemahaman yang berbeda. Berdasarkan survey ke lahan petani di Jawa Barat, Jawa Tengah dan Jawa Timur yang dilakukan Balai Penelitian Tanah, berbeda pemahaman tentang pertanian organik di beberapa petani tergantung pada informasi yang sampai ke petani. Petani di Jawa Barat lebih maju karena mereka umumnya petani yang sudah mapan, dan yang dikembangkan komoditi sayuran serta buah-buahan. Sedangkan di Jawa Tengah, selain buah-buahan seperti Salak juga mulai dikembangkan padi organik. Dalam hal ini Pemda Jateng mendukung sepenuhnya petani yang mau menanam padi secara organik, antara lain dengan cara membeli produksi petani sampai produksinya stabil dan petani bisa mandiri. Seperti contoh, kabupaten Sragen di Jawa Tengah mencanangkan gerakan Sragen Organik. Sedangkan di Jawa Timur, umumnya berkembang kebun buahan organik seperti apel organik. Terlepas dari apakah itu benar-benar sudah merupakan produk organik ataukah belum, sebagaimana akan dibahas nanti, perkembangan pertanian organik ini perlu mendapat arahan dan perhatian serius pemerintah.

HARAPAN DAN TUJUAN

  • Munculnya kelompok pertanian organik dimana kelompok ini nantinya sangat mengerti dan memperhatikan masalah lingkungan.
  • Menciptakan produk pertanian organik yang harganya cukup memadai di pasaran dan dianggap komoditas strategis untuk ketahanan pangan nasional.
  • Menjadikan pertanian organik sebagai suatu industri yang sangat layak untuk diperhatikan , dan bermanfaat bagi lingkungan untuk menjaga keseimbangan alam.
  • Menciptakan tempat pemasaran produk organik disetiap daerah agar masyarakat nantinya mendapatkan produk pertanian organik yang terjangkau serta bermanfaat bagi kesehatan.
  • Menciptakan lingkungan yang sehat serta berdampak kepada masyarakat yang sehat dan makmur.

     

     

 

 


 

Lembaga Mitra Tani Organik

Desember 26, 2007

gambar-panen.jpg

PERAN LEMBAGA MITRA TANI ORGANIK DALAM PENINGKATAN  PRODUKSI TANAMAN ORGANIK

 I.         PENDAHULUAN           

      Salah satu upaya peningkatan produksi pertanian yang dilaksanakan dewasa ini adalah melalui program intensifikasi yaitu upaya peningkatan produksi melalui tehnik peningkatan produksi persatuan luas. Adapun pola tersebut melibatkan kegiatan sapta usaha diantaranya pengolahan tanah yang baik, penggunaan benih bermutu, pemupukan yang berimbang, pengendalian hama dan penyakit, pemeliharaan dan penanganan pasca panen yang tepat dan benar. Permasalahan yang dihadapi dalam upaya peningkatan produksi diantaranya sering terbatasnya penyediaan faktor produksi seperti pupuk yang sulit didapat, pestisida yang relative mahal disamping ekosistim yang terus tergangggu. Pemahaman akan bahaya bahan kimia sintetis dalam waktu yang lama mulai disadari sehingga perlu alternative dalam bercocok tanam yang mampu menghasilkan produksi yang tinggi, bebas dari pencemaran kimia sintetis serta menjaga lingkungan yang lebih sehat. Trend pertanian organik di Indonesia, mulai diperkenalkan oleh beberapa petani yang sudah mapan dan memahami keunggulan sistim pertanian organik tersebut. Beberapa ekspatriat yang sudah lama hidup di Indonesia, memiliki lahan yang luas dan ikut membantu mengembangkan aliran pertanian organik tersebut ke penduduk di sekitarnya. Kemudian beberapa kalangan atas yang memiliki hoby bercocok tanam juga sekarang beramai-ramai mulai membenahi lahan luas yang dimiliki mereka dan mempekerjakan penduduk sekitarnya sekaligus alih teknologi. Disamping itu banyak lembaga non pemerintah (NGO) yang bertujuan mengembangkan sistim pertanian organik di Indonesia melalui pembinaan sumberdaya manusia ataupun bertujuan menggapai pasar organik didalam dan luar negri.Lembaga Mtra Tani organik sesuai dengan visi dan misinya bekerjasama dengan masyarakat tani, pemerhati lingkungan dan kalangan pemerintah untuk mengembangkan berbagai strategi dalam upaya menghasilkan produk – produk organik serta upaya peningkatan pendapatan masyarakat.  

II.        PENGERTIAN PERTANIAN ORGANIK           

     Sebenarnya apa itu pertanian organik, dan mengapa produk organik tersebut bisa menjadi tidak terjangkau oleh masyarakat kita sendiri apalagi oleh petani. Dan mungkinkah sistim pertanian organik ini dapat menjadi salah satu pilihan dalam rangka ketahanan pangan dan sustainabilitas lahan pertanian di Indonesia. Cikal bakal pertanian organik sudah sejak lama kita kenal, saat itu semuanya dilakukan secara tradisonal dan menggunakan bahan-bahan alamiah. Sejalan dengan perkembangan ilmu pertanian dan ledakan populasi manusia maka kebutuhan pangan juga meningkat. Saat itu revolusi hijau di Indonesia memberikan hasil yang signifikan terhadap pemenuhan kebutuhan pangan. Dimana penggunaan pupuk kimia sintetis, penanaman varietas unggul berproduksi tinggi (high yield variety), penggunaan pestisida, intensifikasi lahan dan lainnya mengalami peningkatan. Pencemaran pupuk kimia, pestisida dan lainnya akibat kelebihan pemakaian, berdampak terhadap penurunan kualitas lingkungan serta kesehatan manusia. Pemahaman akan bahaya bahan kimia sintetis dalam jangka waktu lama mulai disadari sehingga dicari alternatif bercocok tanam yang dapat menghasilkan produk yang bebas dari cemaran bahan kimia sintetis serta menjaga lingkungan yang lebih sehat. Sejak itulah mulai dilirik kembali cara pertanian alamiah (back to nature). Pertanian organik modern sangat berbeda dengan pertanian alamiah di jaman dulu. Dalam pertanian organik modern dibutuhkan teknologi bercocok tanam, penyediaan pupuk organik, pengendalian hama dan penyakit menggunakan agen hayati atau mikroba serta manajemen yang baik untuk kesuksesan pertanian organik tersebut. Pertanian organik di definisikan sebagai “sistem produksi pertanian yang holistik dan terpadu, dengan cara mengoptimalkan kesehatan dan produktivitas agro-ekosistem secara alami, sehingga menghasilkan pangan dan serat yang cukup, berkualitas, dan berkelanjutan. Lebih lanjut IFOAM (International Federation of Organik Agriculture Movements) menjelaskan pertanian organik adalah sistem pertanian yang holistik yang mendukung dan mempercepat biodiversiti, siklus biologi dan aktivitas biologi tanah.

III.      PERMASALAHAN SEPUTAR PERTANIAN ORGANIK

a. Penyediaan pupuk organik

     Permasalahan pertanian organik di Indonesia sejalan dengan perkembangan pertanian organik itu sendiri. Pertanian organik mutlak memerlukan pupuk organik sebagai sumber hara utama. Dalam sistem pertanian organik, ketersediaan hara bagi tanaman harus berasal dari pupuk organik. Padahal dalam pupuk organik tersebut kandungan hara per satuan berat kering bahan jauh dibawah realis hara yang dihasilkan oleh pupuk anorganik, seperti Urea, TSP dan KCl.

b. Teknologi pendukung

     Setelah masalah penyediaan pupuk organik, masalah utama yang lain adalah teknologi budidaya pertanian organik itu sendiri. Teknik bercocok tanam yang benar seperti pemilihan rotasi tanaman dengan mempertimbangkan efek allelopati dan pemutusan siklus hidup hama perlu diketahui. Pengetahuan akan tanaman yang dapat menyumbangkan hara tanaman seperti legum sebagai tanaman penyumbang Nitrogen dan unsur hara lainnya sangatlah membantu untuk kelestarian lahan pertanian organik. Selain itu teknologi pencegahan hama dan penyakit juga sangat diperlukan, terutama pada pembudidayaan  pertanian organik di musim hujan.

c. Pemasaran

     Pemasaran produk organik didalam negeri sampai saat ini hanyalah berdasarkan kepercayaan kedua belah pihak, konsumen dan produsen. Sedangkan untuk pemasaran keluar negeri, produk organik Indonesia masih sulit menembus pasar internasional meskipun sudah ada beberapa pengusaha yang pernah menembus pasar international tersebut. Kendala utama adalah sertifikasi produk oleh suatu badan sertifikasi yang sesuai standar suatu negara yang akan di tuju. Akibat keterbatasan sarana dan prasarana terutama terkait dengan standar mutu produk, sebagian besar produk pertanian organik tersebut berbalik memenuhi pasar dalam negeri yang masih memiliki pangsa pasar cukup luas. Yang banyak terjadi adalah masing-masing melabel produknya sebagai produk organik, namun kenyataannya banyak yang masih mencampur pupuk organik dengan pupuk kimia serta menggunakan sedikit pestisida. Petani yang benar-benar melaksanakan pertanian organik tentu saja akan merugi dalam hal ini.  

Lembaga Mitra Tani  Organik di bentuk berdasarkan pengamatan atas beberapa aspek :

·         Lingkungan

Selama beberapa dasawarsa ini telah terjadi pergeseran pola dan system tanam pada masyarakat petani kita, sehingga terjadi perubahan dan kerusakan lingkungan yang bersifat global, tidak hanya pada tanah tetapi juga pada air dan udara.·         KesehatanAkibat perubahan lingkungan , berdampak pula pada kesehatan manusia dimana daya tahan manusia terhadap penyakit semakin menurun, dan timbul jenis – jenis bakteri dan virus yang baru dan daya tahan bakteri dan virus baru tersebut relative meningkat terhadap obat.

·         Keadilan dan Perlindungan

Kalau dibandingkan dengan zaman dahulu , zaman sekarang terjadi penurunan terhadap kwalitas maupun kwantitas terhadap hasil dari tanaman, sehingga menimbulkan dampak terhadap pendapatan dari para petani, dimana terjadi peningkatan modal tapi tidak disertai dengan hasil yang memadai. Munculnya strain baru  hama dan penyakit dari tanaman.

·         Finansial

Selama ini kita melihat keuntungan dari hasil panen petani tidak seluruhnya diterima oleh petani, hanya sekitar 20% – 30% hasil dari panen, yang lain menghilang begitu saja, hal ini diakibatkan oleh kurangnya modal para petani . Kurangnya bantuan berupa modal dan tehnologi dari pemerintah maupun kredit Bank..

     Dari hasil pengamatan terhadap keempat hal diatas, kita dapat menyimpulkan apa penyebab perubahan semua itu, yaitu pengolahan lahan yang tidak sesuai dengan ketentuan, pemakaian pupuk dan penggunaan pestisida kimia yang tidak sesuai prosedur, kurang pengetahuan tentang kesehatan lingkungan.Akibat terjadinya perubahan lingkungan yang extrim terjadi pula perubahan pada kehidupan sosial pada masyarakat, kami dari Lembaga Mitra Tani Organik (LMTO)  mengajak element masyarakat yang mempunyai visi , misi dan inovasi atas kepedulian  terhadap lingkungan bergabung dan bekerja bersama untuk mengembangkan sebuah rencana jangka panjang bagi perbaikan lingkungan dan masyarakat. 

VISI DAN MISI      

Visi Lemba Mitra Tani  Organik selalu mengedepankan lingkungan yang berkelanjutan dengan menyertakan regenerasi dari pemanfaatan ekosistem sebagai produk yang nantinya akan menggantikan produk produk kimia.            Misi  Lemba Mitra Tani   Organik bekerjasama dengan Pemuka Masyarakat, LSM, Pemerhati Lingkungan dan kalangan Pemerintah untuk mengembangkan berbagai strategi.

PROGRAM

Program Jangka Pendek,

·         Membudayakan petani agar bercocok tanam secara organik dan ramah lingkungan dengan pemakaian pupuk dan pestisida organik.

·         Memberikan ilmu pengetahuan tentang pelestarian lingkungan dan bahaya kerusakan lingkungan.

·          Memberikan bantuan berupa bibit dan pupuk dengan pembayaran setelah panen.

·         Membentuk suatu jaringan dengan system pembinaan terhadap kelompok tani. 

Program Jangka Panjang,

·         Meningkatkan pendapatan petani  melalui peningkatan produksi dan atau mutu hasil panen.

·         Menciptakan metoda pertanian yang ramah lingkungan.

·         Menghasilkan produk pertanian organik, mempunyai  nilai jual lebih baik serta memberi  manfaat kepada kesehatan masyarakat banyak.

·         Mengurangi pengangguran dengan cara memperdayakan masyarakat sekitar untuk dapat mengelola pertanian secara berkesinambungan.

·         Mengajak masyarakat , LSM peduli lingkungan dan pemerintah bersama – sama  membantu petani agar dapat terbebas dari masalah yang selama ini terjadi.

·         Membantu Pemerintah dalam hal swasembada pangan dan meningkat ketahanan pangan nasional.

·         Mengurangi ketergantungan terhadap penggunaan bahan kimia. 

DUKUNGAN

Sejauh ini pertanian organik disambut oleh banyak kalangan masyarakat, meskipun dengan pemahaman yang berbeda. Berdasarkan survey ke lahan petani di Jawa Barat, Jawa Tengah dan Jawa Timur yang dilakukan Balai Penelitian Tanah, berbeda pemahaman tentang pertanian organik di beberapa petani tergantung pada informasi yang sampai ke petani. Petani di Jawa Barat lebih maju karena mereka umumnya petani yang sudah mapan, dan yang dikembangkan komoditi sayuran serta buah-buahan. Sedangkan di Jawa Tengah, selain buah-buahan seperti Salak juga mulai dikembangkan padi organik. Dalam hal ini Pemda Jateng mendukung sepenuhnya petani yang mau menanam padi secara organik, antara lain dengan cara membeli produksi petani sampai produksinya stabil dan petani bisa mandiri. Seperti contoh, kabupaten Sragen di Jawa Tengah mencanangkan gerakan Sragen Organik. Sedangkan di Jawa Timur, umumnya berkembang kebun buahan organik seperti apel organik. Terlepas dari apakah itu benar-benar sudah merupakan produk organik ataukah belum, sebagaimana akan dibahas nanti, perkembangan pertanian organik ini perlu mendapat arahan dan perhatian serius pemerintah.

 HARAPAN DAN TUJUAN

·         Munculnya kelompok pertanian organik dimana kelompok ini nantinya sangat mengerti dan memperhatikan masalah lingkungan.

·         Menciptakan produk pertanian organik  yang harganya cukup memadai di pasaran dan dianggap komoditas strategis untuk ketahanan pangan nasional.

·         Menjadikan pertanian organik sebagai suatu industri yang sangat layak untuk diperhatikan , dan bermanfaat bagi lingkungan untuk menjaga keseimbangan alam.

·         Menciptakan  tempat pemasaran produk organik disetiap daerah agar masyarakat nantinya mendapatkan produk pertanian organik yang terjangkau serta bermanfaat bagi kesehatan.

·         Menciptakan lingkungan yang sehat serta berdampak kepada masyarakat yang sehat  dan makmur.      

 

Halo dunia!

Desember 26, 2007

Welcome to WordPress.com. This is your first post. Edit or delete it and start blogging!